Liverpool, Menuju Musim Depan Tanpa Eropa?

Liverpool, seperti yang diketahui, merupakan raja sepak bola inggris, setidaknya selama 30 tahun terakhir sebelum Manchester United mengambil alih “tahta” mereka setelah meraih gelar ke-19 beberapa minggu yang lalu. Memang, butuh waktu lama bagi Manchester United untuk mampu melewati gelar Liverpool. Tercatat, dari tahun 1990 saat Liverpool terakhir meraih gelar juara, butuh 21 tahun bagi MU untuk melewati Liverpool, dan hal ini merupakan hal yang saya banggakan sebagai seorang Liverpudlian. Namun, bagaimanapun juga ada 1 hal yang mengganjal, ke mana saja Liverpool selama 21 tahun?Kini, setelah melalui bermusim-musim tanpa gelar, mampukah Liverpool meraih setidaknya 1 gelar musim depan?

Menilik materi paruh kedua musim ini, terlepas dari kekalahan Liverpool dari Tottenham Hotspurs dan Westbrom (yang keduanya mengandung insiden penalti kontroversial), penampilan anak asuh Kenny Dalglish dapat dikatakan mengagumkan, bahkan mereka terkesan memberikan gelar juara pada MU setelah mampu membuktikan mereka dapat mengalahkan Manchester United pada laga di Anfield dengan skor 3-1. Juga pada beberapa laga terakhir terlihat para punggawa Liverpool sangat solid dengan tidak hanya bergantung pada Torres dan Gerrard saja seperti selama ini, namun juga telah mengandalkan seluruh pemain dalam tim, mulai dari Maxi Rodriguez yang mencetak 2x hattrick dalam 3 laga, Luis Suarez yang sejauh ini mencetak 4 gol dengan aksi-aksi individu yang mengagumkan, Dirk Kuyt yang tetap menjadi bagian penting lini depan Liverpool hingga Andy Carrol, striker muda yang telah menyumbangkan 2 gol untuk mengalahkan Manchester City.

Barisan belakang Liverpool juga semakin padu meskipun diiringi regenerasi ‘mendadak’ King Kenny karena cederanya beberapa pilar penting. Diawali cedera yang menimpa bek kiri, Fabio Aurelio dan Daniel Agger, serta dipinjamkannya Paul Konchesky ke Nottingham Forest membuat stok bek kiri Liverpool berkurang drastis. Hal ini membuat Glenn Johnson yang sejatinya bek kanan berpindah ke kiri dan pemain muda pertama di barisan belakang adalah Martin Kelly dengan penampilan yang sangat impresif, sayangnya cedera juga menghanpiri pemain tersebut, membuat Cara bergeser ke kanan dan menyerahkan posisi tengah pada Kyrgiakos dan Skrtel. Komposisi tersebut juga tidak tahan lama. Glenn Johnson cedera, dan Aurelio sembuh, sayangnya, baru bermain selama 21 menit, kembali ia harus keluar. Di sinilah titik ‘regenerasi’ Liverpool menurut saya. Segera Flanagan dan Robinson mengisi pos bek kanan dan kiri Liverpool di usia yang sangat muda dan dengan penampilan yang jauh dari mengecewakan, terlepas dari penalti Modric yang melibatkan Flanagan.

Begitu juga dengan lini tengah, kehilangan Steven Gerrard untuk waktu yang cukup lama tidak membuat lini tengah Liverpool menjadi ‘loyo’. Dengan munculnya Jay Spearing dan Jonjo Shelvey sebagai tandem Lucas Leiva dan Meireles yang dapatdipasang di kiri maupun tengah, Joe Cole yang semakin membaik, serta Dirk Kuyt yang terus konsisten membuat lini tengah Liverpool menguasai lapangan hampir di tiap pertandingan. Apalagi setelah Maxi Rodriguez mulai ganas dengan 7 gol dalam 3 pertandingan, lini tengah Liverpool mampu menutupi kekurangan jumlah gol yang dialami lini depan Liverpool yang mengandalkan Luis Suarez, Andy Carrol, David Ngog, dan Danny Pachecho, meskipun nama terakhir hampir tidak pernah muncul ke lapangan.

Dengan segala kelengkapan skuad di atas, Liverpool sepertinya mampu menyodok posisi atas, sayangnya kekalahan dari Tottenham membuat peluang tersebut menjadi kecil, bukan saja karena Liverpool tergusur ke peringkat 6 dengan selisih poin 1 dengan Tottenham, namun juga menilik lawan yang dihadapi di partai terakhir, Liverpool melawan Aston Villa di Villa Park dan Tottenham menjamu tim yang berjuang untuk bertahan di BPL, Birmingham City yang berada 1 strip di atas Blackpool dan Wigan yang juga bertaruh pada Laga terakhir mereka untuk bertahan di Liga Premier Inggris dengan poin sama untuk ketiga tim, 39. Susah? Memang, tapi tetap saja menang di Villa Park adalah kewajiban, tidak peduli hasil yang diraih Tottenham di White Hart Lane. Dengan begitu, meskipun musim depan tanpa Eropa, namun Liverpool tetap memperoleh hasil maksimal musim ini. Tahun depan, kami akan raih kembali gelar juara BPL! YNWA!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s