Indonesia, Masihkah Indonesia?

Indonesia merupakan negara dengan berbagai keragaman suku, budaya, agama, ras, dan bahkan bahasa. Dari Merauke hingga Sabang, segala keragaman dapat dijumpai di tiap-tiap daerah. Berbagai bahasa juga dapat dijumpai di seluruh Indonesia, di samping bahasa baku, bahasa Indonesia, terdapat pula bahasa Papua, bahasa Minang, bahasa Sunda, bahasa Jawa, bahkan tidak sedikit orang Indonesia mampu menguasai bahasa asing seperti bahasa Inggris, Perancis, Mandarin, Jepang dan lain-lain. Namun, yang menjadi sorotan saya di sini bukanlah masalah bahasa-bahasa internasional yang penggunaannya memang dibutuhkan untuk dapat mengembangkan diri, tapi mulai lunturnya budaya kita oleh budaya luar, hingga kurangnya antusiasme publik terhadap produk-produk lokal.

Pertama, saya ingin membahas masalah produk-produk kerajinan lokal Indonesia yang mulai ditinggalkan kalangan-kalangan atas. Sebagai contoh, orang-orang kalangan atas dan berduit cenderung memakai tas dengan merk terkenal sebagai sebuah kebanggaan dalam kehidupan, dan hal ini membuat produk-produk dalam negri seperti tas dari bahan rotan hasil kerajinan mulai ditinggalkan, padahal orang-orang luar yang banyak duit malah jauh-jauh datang ke Indonesia untuk mencari kerajinan tangan. Malah sampai Ada yang mengklaim itu sebagai produk negara mereka karena di Indonesia sendiri produk tersebut memang tidak digemari lagi. Ironis! Belum lagi anak-anak muda zaman sekarang, terutama yang tinggal di perkotaan,lebih memilih untuk memainkan game-game online ataupun permainan elektronik dibandingkan dengan mainan tradisional. Terlepas dari itu semua, memang diakui bahwa permainan elektronik lebih menantang dan seru daripada mainan tradisional, tapi itu bukan berarti bahwa mainan tradisional dipersilahkan untuk punah.

Lalu berikutnya adalah gaya hidup bangsa Indonesia saat ini. Pakaian kebaya panjang dan daster batik hampir mustahil ditemui di kota2 besar, terutama di rumah-rumah orang berduit, tapi bukan itu masalahnya. Premanisme contohnya. Orang-orang Indonesia terkenal dengan kereligiusannya, tapi mengapa premanisme marak di masyarakat? Saya pribadi sedikit menyalahkan game-game berbau bully seperti GTA series. Lalu dari cara berpakaian, sudah tidak lagi seperti orang timur yang menutup auratnya. Memang, mungkin hal tersebut banyak dijumpai pada perempuan, namun yang menjadi masalah justru karena perempuan yang memakai pakaian ala barat. Bayangkan saja kalau laki-laki yang memakai baju u can see lalu berjalan-jalan di muka umum, yang Ada dilemparin orang kali ya? Bukan hanya kaum hawa muda yang berpakaian seperti itu, kaum hawa yang sudah berumur pun melakukan hal yang sama. Sedangkan di AS sendiri rata-rata wanita berumur 40 tahun ke atas sudah memakai baju yang tertutup, meskipun tidak sedikit yang belahan dadanya terlihat, tapi setidaknya jauh lebih sopan daripada saat berusia 20an. Tapi di Indonesia tidak sedikit wanita berumur 40an yang memakai pakaian layaknya seorang abg berumur 18an. Telat mode kali ya? (Tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun).

Masih masalah gaya hidup, clubbing. Tidak sedikit kan tempat-tempat clubbing di kota-kota besar? Bahkan Ada tempat clubbing yang memperbolehkan pengunjung berbuat maksiat. Ironis sekali bung dengan budaya timur,terutama budaya Indonesia! Seakan-akan adat kita hanya sejarah yang wajib dipelajari secara formal di sekolah, lalu dilupakan dalam praktek kehidupan. Gaya hidup anak-anak muda sekarang juga tidak sehat. Saat kumpul-kumpul dengan teman-teman, meskipun uang di kantong cuma Ada 30rb, tempat makan apa yang diusulkan saat lapar tiba? Warteg? Rumah makan Padang? Atau fast food? Tidak jarang mereka memilih fast food karena prestise semata, apalagi kalau lagi jalan bareng cewek, pasti cowoknya ogah banget makan di tempat-tempat biasa, atau si cewek ogah banget makan di tempat-tempat biasa, dengan alasan klasik, jorok, tidak higienis, dan saya pernah mendengar alasan ‘makanan murah itu’. Waduh bung!

Lalu apresiasi terhadap karya lokal juga mulai berkurang. Masih ingat konser Justin Bieber di Sentul beberapa waktu lalu? Tiket dengan harga mahal menjadi rebutan para fans, bahkan sampai menangis histeris di bandara saat tidak dapat bertemu dengan Justin! Taruhan deh, seandainya yang konser itu Ungu, GIGI, ataupun Geisha, pasti sampai hari H pun tiket masih Ada tersisa. Atau jangan-jangan setelah konser pun masih Ada sisa tiket? Belum lagi konser Suju yang dengar-dengar digembleng juga dengan Shinee dalam acara Festival Kimchi pada 4 Juni 2011. Antisiasme masyarakat, terutama para pecinta Korea sudah pasti sangat tinggi, apalagi yang tampil adalah Suju. Belum lagi Indosesia saat ini lagi kena virus SNSD, girlband asal Korea yang juga dipayungi SM seperti Suju. Para fans SNSD di Indonesia bahkan telah membuat petisi yang isinya meminta agar SNSD datang ke Indonesia, bisa ditebak, belum tau kapan datang saja sudah ramai, apalagi kalo sudah fix? Bisa-bisa mengalahkan hebohnya konser Justin Bieber dan Maroon5 di Indonesia.

Belum lagi budaya Jepang yang begitu merasuki anak-anak muda. Coba saja tes, lebih tau mana, cerita rakyat Indonesia atau komik-komik Jepang seperti Naruto, Doraemon, Death Note, dll. Jawabannya sudah pasti. Belum lagi setiap diadakan festival kebudayaan Jepang, ramainya bukan main. Coba diadakan festival batik. Paling yang datang bapak-bapak, trus anak-anak muda hanya segelintir. Miris memang, tapi itulah kenyataan yang terjadi di masyarakat. Siapa yang disalahkan? Presiden? Jelas tidak. Pada dasarnya memang kebudayaan Indonesia miskin peminat dalam negri, tapi banyak peminat luar negri. Hampir tidak dihargai di negri sendiri, tapi dicari di negri orang. Dilupakan di negri sendiri, diklaim oleh negri orang, marah. Nah lo!

Thank You for reading,

[Kievas Cahyadi]

One thought on “Indonesia, Masihkah Indonesia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s