[Sharing Center] DBD, Berbahaya atau Tidak?

DBD atau lebih dikenal dengan demam berdarah, merupakan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegypti. Penyakit tersebut cukup marak di negara kita, namun penanganannya hingga hari ini tetap saja belum optimal. Tulisan ini saya buat hanya intuk sekedar sharing pengalaman dan untuk mengetahui seberapa bahayanya penyakit tersebut.

Saya mengalami sakit tersebut sekitar Januari 2009. Saat hari pertama menderita sakit tersebut, suhu tubuh saya cukup tinggi, sekitar 38 derajat Celcius. Orang tua langsung panik telepon sana sini untuk cari tahu sakit apa yang saya derita (namanya juga orang tua). Setelah tanya sana sini dan cek dokter keluarga, akhirnya diputuskan secara resmi, demam berdarah. Dalam kasus tersebut, saya tidak panik dan takut, justru keluarga saya yang sedikit panik (ya lah, namanya juga keluarga). Saya sendiri tidak terlalu takut terhadap penyakit tersebut. Selain karena langsung ketahuan, pengobatan dari dokter pun segera dilaksanakan malam itu juga.

Masih ingat rasanya pas suntik infus supaya cepat sembuh kata dokter. Kata orang-orang sakit. Padahal sakitnya cuma sepersekian detik saja. Yang jadi masalah adalah saya ini bandel kalau disuruh minum jus buah, jadilah jus buah guava hanya diminum seperempat gelas. Belum lagi saat disuruh minum obat-obat tradisional penambah trombosit atau keping darah yang kalau tidak salah bernama angkak. Waduh, satu gelas kecil pun butuh 2jam untuk habis diminum. Itupun cuma supaya orang tua tidak khawatir. Nah, setelah seharian panas tinggi dan malas napa-napain, malamnya saat tidur baru saya menjadi ‘aktif’. Mengapa? Karena mimpi-mimpi yang hadir ke tidur saya tidak jelas dan semerawutan. Dari pantai, pindah ke mainan lego, pindah ke tank, akhirnya semalaman tidur tidak nyenyak dengan mimpi yang ‘kreatif’.

Tapi, efek dari infus dan pengobatan cepat tanggap sungguh saya rasakan. Dalam 4 hari saya sudah sembuh buh buh, meskipun tidak 100%. Hari ke-5 saya masuk ke sekolah, namun panas naik lagi saat pulang sekolah, membuat keluarga saya (sekali lagi) panik. Untungnya panas itu menurut dokter keluarga hanya panas yang duilepaskan dari tubuh pasca demam, dan saya masih harus istirahat selama 3 hari lagi sebelum benar-benar kembali beraktivitas. Jadilah saya di sini hari ini, hidup dengan selamat dari DBD. Apakah saya beruntung? Saya rasa tidak. Mengapa tidak?

Karena, hal yang pertama menjadi sorotan saya adalah penanganan. Penanganan cepat dari diri sendiri, keluarga, dan dokter membuat resiko dari penyakit tersebut dapat diminimalisasi. Seandainya saya telat saja 2 atau 3 hari lagi untuk mengetahui penyakit yang saya derita, mungkin blog kievas.wordpress.com tidak akan terbentuk. Penanganan cepat bukan berarti hanya mengetahui penyakit, tapi juga mengobatinya sesegera mungkin dengan tepat. Dalam kasus ini, saya merekomendasikan untuk diinfus, karena dengan infus, suplai vitamin, makanan, dan gizi serta pengganti cairan tubuh hingga obat-obat masuk ke tubuh, dan jujur, menurut saya, karena diinfus maka saya bisa cepat sembuh. Tapi ini hanya pengalaman loh. Saya tidak menjamin 100% hal tersebut juga berlaku pada readers.

Lalu pola makan. Memang nafsu makan akan berkurang, namun hal tersebut tidak mutlak, karena pada prosesnya, nafsu makan saya normal, meskipun rasa makanan yang masuk ke mulut agak aneh. Pola makan jelas harus dijaga, terutama untuk jus guava yang kabarnya bagus untuk penderita DBD. Dalam kasus tersebut, bolehlah anda bilang saya beruntung karena saya hanya meminum seperempat gelas jus tersebut dari seharusnya 1 gelas😉. Makan juga tidak boleh sembarangan. Jangan membayangkan anda akan dimanja di atas tempat tidur dengan KF* atau Pizz* mampir di mulut anda. Itu malah cari penyakit tambahan namanya. Makan bergizi sangat penting. Buah, sayur, dan bubur (kalau yang ini makanan wajib orang sakit).

Tapi, tetap saja, pencegahan lebih penting. Ingat slogan ‘Mencegah lebih baik daripada mengobati’. Beberapa cara pencegahan adalah dengan menguras bak mandi 1 minggu 1x, lalu menaburkan bubuk abate ke dalam bak mandi untuk membunuh jentik-jentik nyamuk, dan menutup tempat pembuangan sampah. Baiklah, sampai di sini saja tulisan sharing saya ini. Untuk lebih jelas tentang nyamuk yang menyebarkan penyakit tersebut, silahkan klik ini.

Thank You for reading.

[Kievas Raikkonen Cahyadi]

One thought on “[Sharing Center] DBD, Berbahaya atau Tidak?

  1. That’s true… Mencegah lebih baik daripada mengobati… Terlebih lagi penyakit demam berdarah dapat mengakibatkan kematian bagi si penderita, jika tidak secepatnya dilakukan pengobatan… Intinya, dalam hal ini diperlukan kesadaran diri untuk mencegah berkembang biaknya nyamuk…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s