Wim atau Riedl?

Kencang berhembus keinginan masyarakat Indonesia untuk kembali meenggunakan Alfred Riedl sebagai pelatih timnas Indonesia menyusul hasil buruk yang diraih timnas di bawah kepelatihan Wim. Hal ini didasari kencangnya makian Wim terhadap anak buahnya saat bertanding melawan Bahrain.

Sebenarnya, kencangnya makian tersebut tidak perlu jika PSSI tidak kencang memilihnya sebagai pelatih Timnas saat mereka dengan kencang memutuskan kontrak Alfred Riedl. Apakah ini semua hanya masalah harga diri? Karena saat ditunjuk, Wim merupakan pelatih PSM Makassar yang saat itu peserta Liga Primer Indonesia sedangkan Alfred Riedl merupakan pelatih Indonesia sejak era Nurdin Halid.

Penulis sendiri setuju dengan Riedl yang mengatakan bahwa Wim tidak pantas melatih timnas Indonesia (hasil wawancara dengan goal.com Indonesia). Bagaimana tidak? Melawan timnas U-23, tim senior hanya mampu meraih hasil imbang 1-1, itupun melalui titik putih setelah tertinggal lebih dulu. Siapa pelatih tim U-23? Rahmad Darmawan. Saat melawan Turkmenistan, kita meraih hasil cukup memuaskan. Siapa pelatih kita? Wim. Asisten? Rahmad Darmawan. Apalagi, Wim sendiri belum aktif dalam tugasnya karena saat itu ia sendiri mengakui bahwa RD yang lebih banyak berkomunikasi dengan pemain lantaran ia baru menangani tim.

Jadi intinya? RD lah yang melatih saat kita menang melawan Turkmenistan. Lalu, bagaimana dengan Alfred? Saat timnas bermain di bawah performa saat dibantai Malaysia 3-0 di leg pertama final AFC 2010, ia yang meminta maaf kepada rakyat Indonesia. Ia mengaku salah strategi. Wim? Ia malah mengatakan ‘f*ck you’ kepada pemain timnas saat turun minum saat melawan Bahrain. Pantaskah? Lalu ia menyalahkan pemain di media, sampai-sampai Ferdinand Sinaga dan Firman Utina tidak ingin membela timnas jika masih dilatih oleh Wim. Astaga! Bahkan Jose Mourinho dan Fergie yang memarahi pemain saat tampil buruk pun selalu membela pemainnya di depan media!

Contoh konkret adalah Dalglish dan Villas-Boas yang membela Andy Carroll dan Frank Lampard dari kritik Fabio Capello, dan bahkan Capello mengritik kedua pemain dengan cara yang pantas.

Jadi, menurut penulis, ada baiknya perasaan egois itu dihilangkan. Hampir seluruh rakyat Indonesia ingin Riedl kembali. Bahkan di Twitter sempat menjadi Trending Topic. Penulis sendiri merekomendasikan RD karena menurut penulis, RD yang berperan di timnas, bukan Wim, ataupun Riedl dipanggil kembali melatih Indonesia. Semoga PSSI tidak membuat keputusan yang salah sehingga peluang kita lolos kualifikasi 3 Piala Dunia 2014 tertutup rapat. Apalagi saat ini Riedl tengah dihubungi Laos.

Bertindak cepatlah PSSI, sekencang makian Wim terhadap para pemain yang menyebabkan pemain ‘ngambek’ dan tidak ingin membela timnas selama Wim masih melatih timnas. Pemain saja menolak, untuk apa dipertahankan? Bravo sepakbola Indonesia!

Thank You for reading,

KievaSone

[Kievas Raikkonen Cahyadi]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s